1. PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mempelajari alam denagn segala isinya. Ilmu pengetahuan alam mempunyai bentuk yang mantap sebagai ilmu baru yang berawal pada abad ke-XVI masehi. Yang sebelumnya masih merupakan kumpulan pengetahuan alam yang cara memperolehnya belum menggunakan cara yang dapat diandalkan.

Awal IPA dimulai saat manusia memperhatikan gejala-gejala alam, mencatatnya dan kemudian mempelajarinya. Pengetahuan yang diperoleh mula-mula terbatas pada hasil pengamatan terhadap gejala alam yang ada. Kemudian makin bertambah dengan pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikirannya.

Selanjutnya dari peningkatan kemampuan daya pikir nya manusia mampu melakukan eksperimen untuk membuktikan dan mencatat kebenaran dari suatu pengetahuan. Setalah manusia mampu memadukan kemampuan penalaran dengan eksperimen ini lahirlah suatu ilmu yang disebut dengan IPA sebagai suatu ilmu yang mantap.

Kata IPA bila kita tinjau dari istilah adalah berarti suatu ilmu yang mempelajari tentang alam sekitar beserta isinya, hal ini berarti IPA mempelajari semua benda yang ada di alam, baik berupa peristiwa,maupun gejala-gejala yang muncul di alam. Ilmu dapat diartikan sebagai suatu pengetahuan yang bersifat objektif. Jadi, dari sisi istilah IPA adalah suatu pengetahuan yang bersifat objektif tentang alam sekitar beserta isinya.

H.W.Fowler mengatakan bahwa IPA adalah ilmu yang sistematis dan dirumuskaan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan induksi. Sedangkan Nokes di dalam bukunya “science in education” menyatakan bahwa IPA adalah suatu ilmu teoritis, tetapi teori tersebut didasarkan atas pengamatan dan percobaan terhadap gejala-gejala alam. Betapa pun indahnya suatu teori dirumuskan, tidaklah dapat dipertahankan kalaulah tidak sesuai denagn hasil-hasil pengamatan atau observasi yang dilakukan. Fakta-fakta tentang gejala kebendaan atau alam yang diselidiki, dan diuji berulang-ulang kali melalui percobaan-percobaan (eksperimen), kemudian berdasarkan hasil eksperimen itulah dirumuskan keterangan ilmiahnya (teori). Suatu teori pun tidak dapat berdiri sendiri, teori pun harus selalu didasari oleh suatu hasil pengamatan yang menerangkan hubungan sebab-akibat.

Dalam pengertian yang lain, disebutkan bahwa IPA adalah suatu eksplorasi kedalam materi berdasarkan observasi, dan yang mencari hubungan-hubungan alamiah yang teratur mengenai phenomena yang diamati serta bersifat mampu menguji diri sendiri (science is an exploration inn the materialuniverse, based on observastion, which sekks natural explanatory relation, and wichis self testing). Jelas defenisi ini melibatkan empat unsure, yaitu mempersoalkan alam materi yang berdasarkan abservasi dan mencari hubungan-hubungan alamiah yang teratur dan harus mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk menguji diri sendiri..

  1. HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN ALAM

Pengetahuan alam diperoleh melalui cara yang khas-khusus, yaitu melakukaN obsevasi eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, abservasi dan seterusnya, kait-mengait antara cara yang satu dengan caraa yang lain. Cara itu tekenal denagn nama metode ilmiah.

Metode ilmiah pada dasarnya merupakan suatu cara yang logis untuk memecahakan suatu masalah tertentu. Metode ilmiah inilah merupakan dasar metode yang digunakan dalam IPA, yang berdasarkan logika (dalam arti rasional) dan didukung bukti empiris. Rumus baku metode ilmiah adalah logika-byphotethico-verificatif (buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesis, ajukan bukti empiris). Pada dasarnya cara kerja IPA adalah kerja mencari hubunngan sebab-akibat atau mencari pengaruh suatu terhadap yang lain. Asumsi dassarnya ialah tidak adda kejadian tanpa sebab. Asumsi ini oleh Fred N.Kerlinger dirumuskan dalam ungkapan post koc, ergo propterhoc (ini, tentu disebabkan oleh ini). Asumsi ini benar bila sebab-akibat itu memiliki hubungan rasional.

Selain adanya hubungan rasional, IPA juga bersifat objektif, netral dan bebas nilai, sekali pun diakui berpijak pada system nilai, tapi antara lain bebas dari pertimbangan nilai.

Jadi, dari uraian-uraian diatas dapat dikatakan bahwa hakikat IPA itu ada tiga, yaitu IPA adalah langkah yang dilakukan untuk memperoleh produk IPA, yaitu dapat melelui observasi atau penelitian yang disebut dengan metode ilmiah.

IPA sebagai produk, maksudnya ialah bahwa IPA menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk kesejahteraan manusia. Selanjutnya, karena IPA dilakukan melalui observasi atau metode yang ilmiah.

IPA sebagai pengembangan sikap

Ilmu alam yang berkenaan dengan studi apa yang ada didalam alam, seperti planet-planet, tumbuh-tumbuhan, air, dan lain-lain. Karena objek-objek tersebut diperuntukkan demi keuntungan manusia, maka studi ilmu alam memungkin manusia akan dapat memanfaatkan dengan cara yang paling baik. Berdasarkan tujuan seperti ini, studi objek-objek dalam Al-Qur’an dipandang sebagai jalan menuju iman kepada Allah. Tujuan untuk mencapai iman kepada Allah inilah yang mengacu kepada pengakuan bahwa mempelajari objek-objek alamiah itu harus mempunyai tujuan yang suci bersih.

Di dalam al-Qur’an banyak rujukan yang mengacu pada sampainya tanda-tanda kekuasaan Allah da dalam alam (al-kawa) atau sebaliknya alam akan memberikan implikasi-implikasi kepada materi-materi sains dalam pendidikan. Al-Qur’an telah menunjukkan ayat-ayat tentang siang dan malam, matahri dan rembulan, awan, air, dan lain-lain. Penjelasan ini menunjukkan banyak fakta-fakta mengenai objek-objek. Dalam surat Al-Ra’da (13) :2 dikatakan, bahwa langit itu ditinggikan tanpa tiang. Dalam Al-Zumar (39) :21, mata air itu dipancaarkan berasal dari hujan yang turun dari langit. Dalam surat Ibrahim (14) : 33 Allah berfirman :

“ dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”.

Rujukan Al-Qur’an mengenai objek-objek alam semesta telah dipahami oleh para cendikiawan muslim dalam pengertian yang lebih dari satu arti. Sebagian memandang bahwa sebagian besar materi-materi Al-Qur’an tersebut lebih dari fakta dan berbicaara mengenai materi Al-Qur’an berkenaan denagn ilmu pengetahuan dan teknologi.

Manakala bukti-bukti Al-Qur’an dipandang sesuai dengan cara ilmiah, maka ada syarat yang harus dipenuhi apabila kita hendak menyelidiki ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan penemuan-penemuan ilmiah yang baru.

Fakta-fakta ilmiah yang diperoleh melalui observasi dan eksperimentasi tidak bertentangan dngan Al-Qur’an. Kenyataan ini berasal dari metode ilmiah yang bersandar pada akal. Yang mempunyai tugas yang telah di akui oleh al-Qur’an dan kata-kata yang mendahuluinya.

Menurut Al-Qur’an, sikap-sikap ddibawah ini harus dikembangkan dalam pengajaran sains :

  1. Formasi adanya kesadaran dan pengertian akan pesan-pesan alam semesta, karena Allah dalam segala sesuatu nya yang telah diciptakan.
  2. Formasi sikap-sikap positif berkenaan dengan alam, karena segala yang ada diperuntukkan bagi keuntungan manusia.
  3. Agar dapat menghindari informasi superficial yang dapat mencari fakta-fakta yang lebih akurat sebelum menerima suatu fakta.
  4. Penerima fakta dari pengetahuan dari sutu itu terbatas dan tidk mutlak.
  5. Agar mampu menolak opini-opini subjektif.

Sejauh ini telah dibicarakan dua masalah pokok. Pertama, bahwa fakta-fakta ilmiah itu harus diajarkan, sementara asumsi-asumsi yang bertentangan dengan Islam tidk boleh ada. Kedua, pengajaran fakta-fakta ilmiah pada akhirnya akan membawa kepada beriman akan Allah.